Menu

LAF

February 2, 2019 0 Comment

LAF (Laminar Air Flow), autoklaf, refrigerator, hot plate, mikroskop, inkubator, furnace, spektrofotometri UV-Visible, timbangan analitik, cawan petri, mikropipet, erlenmeyer, tabung reaksi, pipet volume, pipet media, pipet tetes, rak tabung reaksi, wadah limbah, objek glass, kawat ose, korek api, bunsen.

3.2 Bahan Penelitian
Potato Nutrient Broth (PDB), Potato Nutrient Agar (PDA), aquadest steril, Congo red 0,1%, NaCl 1%, pH indikator, spirtus, kertas sampul coklat, kapas, kain kassa, kain streamin.

3.3 Sampel Penelitian
Tanah Kebun Tanaman Obat (KTO) Fakultas Farmasi Unjani, limbah domestik berupa sisa sayuran yaitu kol dan sawi putih.
3.4 Prosedur Kerja
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani. Penelitian ini bersifat eksplorasi dan eksperimental, dengan prosedur kerja meliputi pengambilan sampel, isolasi mikroba yang terdapat pada sampel tanah, identifikasi mikroba, uji aktivitas degradasi selulosa, persen penyusutan bobot limbah, pengukuran pH dan persen kadar karbon organik dengan metode gravimetri yang telah diinkubasi selama 28 hari.

3.4.1 Pengambilan sampel
Pengambilan sampel tanah dilakukan di Kebun Tanaman Obat (KTO) Fakultas Farmasi UNJANI. Lokasi pengambilan sampel tanah dilakukan dengan cara purposive sampling. Kebun di bagi menjadi lima zona dan diambil sampel pada tiap zona secara acak dengan titik pengambilan pada kedalaman 2 – 10 cm (Gandjar et al, 2006). Sampel tanah kemudian dihomogenkan. Sampel tanah dibawa ke Laboratorium untuk di analisis mikrobiologi. Sampel yang digunakan untuk proses biodegradasi yaitu limbah domestik berupa sisa sayuran.

3.4.2 Isolasi Mikroba Tanah
Sampel tanah diambil sebanyak 5 gram kemudian dilakukan pre-enrichment. Tanah direndam dalam 50 ml PDB (Potato Dextrose Broth), kemudian dihomogenkan dan diinkubasi selama 3-5 hari pada suhu 20-25 oC. Sampel tanah yang telah dilakukan pre-enrichment disuspensikan kedalam air steril kemudian dilakukan pengenceran berulang hingga seri pengenceran 10-6, lalu hasil pengenceran dituang pada cawan petri sebanyak 1 ml untuk disebar pada medium PDA (Potato Dextrose Agar) dan di inkubasi selama 3-5 hari pada suhu 20-25 oC. Adanya pertumbuhan mikroba setelah inkubasi, dipisahkan berdasarkan koloni-koloni mikroba yang terlihat berbeda, kemudian hasil isolat mikroba selanjutnya dilakukan pemisahan dengan cara kultur berulang pada media PDA dengan metode gores dan diinkubasi selama 3-5 hari pada suhu 20-25 oC. Kultur mikroba dilakukan berkali-kali hingga diperoleh isolat murni (Jawetz et al, 2013). Proses isolasi mikroba terdapat pada Lampiran 3, Gambar III.2.

3.4.3 Identifikasi MikrobaTanah
Karakterisasi isolat mikroba tanah Kebun Tanaman Obat (KTO) dilakukan dengan pemeriksaan fenotip meliputi ciri makroskopik dan mikroskopik. Pengamatan makroskopik dilakukan secara visual untuk mengamati koloni mikroba yang telah diisolasi meliputi warna, bentuk, serta permukaan koloni. Sedangkan pengamatan mikroskopis dilakukan dengan moist chamber dan diamati dibawah mikroskop (Jawetz et al, 2013). Cawan petri disiapkan dan diisi dengan 2-3 lapis tissue yang ditetesi air suling hingga kondisi lembab (tidak terlalu basah). Diatas tissue lembab diletakan kaca objek dan tutup objek. Cawan petri disterilisasi di dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Setelah disterilisasi bagian tengah kaca objek ditetesi media PDA sedikit dan dibiarkan memadat kemudian dibelah menjadi dua dengan cutter yang telah di flambir. Isolat mikroba dikultur pada bagian yang terbelah kemudian ditutup dengan kaca penutup yang telah diolesi vaselin pada ketiga sisinya. Vaselin diusahakan tidak menyentuh isolat yang dikultur. Cawan petri yang berisi isolat diinkubasi selama 3-5 hari pada suhu kamar. Setelah selesai masa inkubasi diamati dibawah mikroskop dan diidentifikasi dengan cara dibandingkan dengan literatur (Suryani, et al 2012).

3.4.4 Uji Aktivitas Degradasi Selulosa
Setelah didapatkan isolat murni, dilakukan uji degradasi selulosa dengan menggunakan media CMC (Carboxyl Methyl Cellulose). Isolat murni yang akan diuji diinokulasikan pada satu titik pada cawan petri berisi media CMC (Carboxyl Methyl Cellulose) padat. Masing-masing cawan berisi satu isolat. Setelah koloni mikroba tumbuh, kemudian diwarnai dengan larutan Congo red 0,1% dengan cara dibilas selama 30 menit, kemudian larutan dibuang. Selanjutnya dibilas dengan NaCl 1% untuk mengurangi kepekatan warna Congo red pada media. Pewarnaan dengan Congo red untuk mengetahui kemampuan mikroba dalam mendegradasi selulosa dengan terbentuknya zona bening di sekitar daerah inokulasi (Saraswati et al, 2004).

3.4.5 Penyusutan Bobot Limbah
Limbah sisa sayur dicuci lalu dipotong kecil-kecil. Limbah sayur sebanyak 5 gram dipindahkan ke dalam wadah steril. Mikroba disuspensikan ke dalam air steril kemudian diukur transmitannya pada spektrofotometer UV-visible pada panjang gelombang 580 nm. Transmitan yang digunakan untuk pengujian yaitu T 25%. Kemudian sebanyak 10% suspensi isolat mikroba dimasukan ke dalam wadah berisi limbah sayur tersebut. Wadah berisi sayur dan suspensi mikroba ditutup menggunakan kain strimin, kemudian diinkubasi dalam suhu ruang, penyusutan bobot limbah dihitung setelah waktu inkubasi 28 hari. (Saha, 2014).

Tabel III.1 Mikroba Uji
Mikroba Mikroba Uji
C Kontrol
K1 Isolat K1
K2 Isolat K2
K3 Isolat K3
K12 Isolat K1 dan K2
K13 Isolat K1 dan K3
K23 Isolat K2 dan K3

3.4.6 Pengukuran pH limbah
Pengukuran pH awal limbah sayur dengan menggunakan pH indikator dan pengamatan dilakukan setelah waktu inkubasi selama 28 hari (Saha, 2014).

3.4.7 Kadar Karbon Organik
Residu sayur yang telah diuji biodegradasi ditimbang sebanyak 0,5-1,0 gram dan dimasukan kedalam krus porselen di atas timbangan analitik dan di catat beratnya. Krus berisi residu sayur kemudian dipanaskan pada suhu 1050C hingga mengarang. Setelah mengarang krus dipindahkan kedalam desikator hingga dingin, lalu ditimbang dan dicatat beratnya. Selanjutnya krus dimasukan kedalam furnace dengan suhu 550-600oC hingga residu yang mengarang menjadi abu, kemudian didinginkan di dalam desikator dan krus ditimbang di atas neraca analitik (Evianti dan Sulaiman, 2009).